sang revolter

Rabu, 13 Oktober 2010

cinta Di dalam Islam

Betapa banyak orang mengalami penyakit cinta yang sangat mem buta. Cinta buta itu tidak dapat membedakan antara kemuliaan dengan kehinaan. Banyak mereka yang terkena penyakit cinta buta itu, terjatuh ke dalam lubang kehidupan hina dina, tetapi mereka menyangka sebuah kemuliaan.

Tak jarang pula mereka yang sudah terkena penyakit cinta buta itu, kehilangan kesadaran dan akal pikiran dan kehendak sucinya mengenal hakekat kebenaran sejati, Al-haq.


Mengobati cinta buta seseorang harus mengetahui bahwa yang menimpanya adalah sesuatu yang bertentangan dan menafikan tauhidnya kepada Allah. Manusia yang mengalami cinta buta harus menyadari bahwa ketika melakukan semuanya, karena kelalaian hatinya kepada Allah. Ia harus mengetahui dan menyadari untuk bertauhid kepada-Nya, sunnah-sunnah-Nya, dan bukti-bukti Allah.







Melakukan ibadah-ibadah lahir dan bathin, sehingga hati dan pikirannya senantiasa berpikir kepadanya ibadah kepada-Nya. Hendaklah ia memperbanyak kembali dan mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketundukkan dan rendah diri. Tidak ada obat yang paling efektif daripada ikhlas hanya kepada Allah. Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an :

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. (Yusuf : 24)

Penggambaran ayat diatas ini menjelaskan bahwa Allah memalingkan dan menjauhkan Yusuf dari kemungkaran isyq (cinta buta) dan kekejian dengan keikhlasannya. Tidak ada yang dapat menjauhkan kesesatan seseorang kecuali, hanya ketika ia dekat dengan Allah. Jika hati itu bersih suci dan memurnikan amanah hanya kepada Allah, maka idak mungkin orang akan terkena penyakit cinta buta. Cinta buta tidak akan bersemayam di hati seseorang yang selalu mengingat Allah. Sebab cinta buta hanya berada di dalam hati yang kosong. Seperti dikatakan seorang penyair :

“Cintaku pada perempuana itu datang sebelum aku mengenal cinta, Ia datang ke hati yang kosong, kemudian bersaralah ia”.

Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Nabi Muhammad saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan Kapal yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.
Apa yang membuat  gila Layla Majnun, tidak lain karena cinta buta. Seperti kata penyair:

Mereka bilang, “Kamu gila (tergila) dengan orang yang kaucintai?,

Engkau menjawab, “Cinta buta lebih dahsyat daripada orang gila”,

Orang yang terserang cinta buta tidak tersadar sepanjang masa,

Sementara orang gila akan siuman dari kegilaannya”.




Kata-kata mutiara tentang cinta

Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.

cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Ali bin Abi Thali
 Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.
A’idh Al-Qorni
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan perna...h mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.

Salah satu faktor paling penting timbulnya rasa cinta dan kebahagiaan suami istri adalah pengetahuan sang istri terhadap kedudukan suaminya sebagaimana yang digambarkan Islam, yang pada prinsipnya berkisar pada perhatian istri serta bagaimana dia menggauli suaminya.

عَنْ حُصَيْنِ بْ...نِ مُحْصِنٍ قَالَ: حَدَثَنِي عَمَتِ...ي قَالَتْ: أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّ هَذِهِ, أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتَ مِنْهُ؟ قَالَتْ: مَاآلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجِزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَتُكِ وَ نَارُكِ.

“(Diceritakan) dari Hushain bin Muhshin, dia mengatakan, “Bibiku pernah bercerita kepadaku seraya berkata, “Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW, kemudian beliau bertanya, “Hai perempuan, apakah engkau punya suami?” Aku menjawab, “‘Iya.” Beliau kemudian bertanya, “Bagaimana perlakuanmu terhadapnya?” Aku menjawab, “Aku tidak lalai dalam melayani dan menaatinya selama aku mampu.” Beliau kemudian bersabda, “Perhatikanlah bagaimana perlakuanmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i)

 


0 komentar:

Posting Komentar