sang revolter

Sabtu, 18 Desember 2010

cerita PEngalamn SMA

Hampir semua guru di MaN 3 sangat kami hormati,
terlebih Bpk. En Efendi kita yang pendiam tapi brilian.
Beliau termasuk guru idola saya (kepingin suatu saat menjadi math teacher seperti beliau)
Ceritanya begini :
Seperti biasa beliau serius menulis rumus awal dan rumus-rumus turunan di whiteboard dan lansung soal.
Kelas yang terkenal heboh dan kritis karena ada Nikmah, yulanda, bahjah,robert dkk (he he he, jurusan S1 bo) – bener-benar hening dan ikut serius: entah serius menyimak rumus matematika yang terus beranak, atau karena hormat dengan Bpk En Effendi , kurang jelas, mungkin dua-duanya.
Saking heningnya, mungkin suara jarum jatuhpun akan kedengaran…
Sekonyong-konyong, dalam keheningan kelas menjelang jam 11-an itu, ingat Robert?
Nah teman kita yang ugal-ugalan ini, tiba-tiba berekspresi ala di warung kopi…robbet ketiduran dan kentut: …..tuuuuttttttttttt………
Lembut dan tidak begitu kencang, hanya sekali saja – tidak ikut beranak layaknya rumus di atas…
Tapiiiii…… karena kelas sedemikian hening, otomatis suara keluar anginnya robert itu kedengaran jelas ke seluruh pelosok ruangan….
Semua anak-anak di kelas yang kritis itu menahan ketawa,
Tidak ada satu pun yang berani ngakak: saking hormat akan kewibawaan Bpk. En
Apa yg terjadi kemudian?
Tiba-tiba Bp EN menoleh pelan ke belakang ke arah kami – sambil tersenyum…
Sontak, seisi kelas yang sudah menahan beberapa saat, pecah dalam tawa tak terperi, semua ngakak karena episode tak terduga itu…
 dan pak En mendekati Robert dan mencoret spidol hitam di pipinya dann menyruh robert cuci muka.

“…Maaf Pak, saya pusing…” sahut robert ketakutan.
robert,robert….mangkanya rumus jangan ditelan kawan……………he he he
kenapa setiap peljaran saya kamu selalu tidur?
tidak adan kiritk dan saran karean MAn 3 masih perlu masa perubahan.

0 komentar:

Posting Komentar